Kumpulan Tugas Makalah

yooooo………..yang mau nyari tugas sekolah disini tempatnya disini saya akan memposting beberapa tugas anak – anak sekolah yang pernah saya buat, bagi yang berminat silahkan di copas saja…….gratis kok ^_^

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah dengan inayah dan ridho Allah SWT. akhirnya makalah ini dapat di selesaikan yang dimana makalah ini akan membahas tentang bagaiman Rasulullah SAW. dan juga memberikan hadist ”serta keterangan tentang bagaimana Rasulullah SAW dahulu saat sedang melakukan shalat dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit. Rasulullah juga menerangkan bagaimana cara shalat saat kita berada di dalam kendaraan baik kendaraan udara dan kendaraan di darat. Makalah ini akan menjelaskan cara ”melakukan sholat yang baik dan benar.

Makalah ini mengutip berbagai sumber ” buku yang menjelaskan tentang cara rasulullah shalat, Makalah ini juga akan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti serta dipahami contoh judul buku ” tentang tata cara shalat Rasulullah adalah sifat shalat  Nabi SAW diterbitkan oleh Media Hidayah, tanya – jawab tenteng Rukun Islam diterbitkan oleh Kerajaan Saudi Arabia. Bimbingan Islam diterbitkan oleh Islamic Propagation office in Rabwah, Ruh shalat dan hikmahnya di terbitkan oleh ”Rimbau” Medan dan Fadillah shalat ” Sunnah diterbitkan oleh ”Duta media” Surabaya.

Demikian Makalah ini telah selesai dan kepada Dosen yang memberikan tugas makalah ini kepada penulis mengharapkan koreksinya se        rta komentarnya terhadap makalah ini jika memang terdapat kekeliruan serta kasalahan pada kata ” penulisan dan pembahasan yang kurang akurat dalam makalah ini.

Kepada Allah SWT. kami memohon taufik dan hidayah. Semoga usaha penulis ini senantiasa dalam keridhaan-nya. Amin

Wassalam,

Penyusun

DAFTAR  ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Pendahuluan

Bab 1 : Persiapan Shalat

  1. Menghadap Ka’bah
  2. Berdiri
  3. Shalat dengan duduk bagi yang sakit
  4. Shalat di atas perahu
  5. Shalat lain dengan berdidri atau duduk
  6. Shalat dengan bersandal
  7. Shalat di atas mimbar
  8. Kewajiban memasang sutra (pembatas)
  9. Yang bias membatalkan shalat
  10. Menghadap kubur
  11. Niat

Bab 2 : Gerakan dan bacaan shalat

  1. Takbir
  2. Mengangkat kedua tangan
  3. Bersedekap
  4. Bacaan Al-Fatihah
  5. Bacaan Makmum
  6. Membaca Qunut Nazilah pada shalat lima waktu
  7. Sujud di atas tikar dan tanah
  8. Mengucap salam
  9. Kewajiban salam

Bab 3 : Ruh shalat khusyu dan faktornya

  1. Ruh shalat
  2. Khusyu
  3. Faktor – factor khusyu
  4. Hukum – hokum shalat

Catatan Kaki

Kesimpulan

Daftar Pustaka

PENDAHULUAN

Shalat adalah merupakan ibadah pokok (ra’sul ibadah) yang pertama sekali diwajibkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Dan shalat juga nanti yang nomor satu dihisab dihari kiamat yang sangat menentukan nasib seseorang, ke surga atau ke neraka. Sebab itu masalah shalat haruslah dipelajari dengan teliti dan dengan setepat – tepatnya sesuai dengan contoh dan teladan yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

Menurut Prof. Thanlawi Gauhari dalam kitab tabsirannya : AL JAWAHIR yang kenamaan itu, shalat adalah merupakan ibadah utama yang terdiri dari 3 gerak, yaitu “harkah riyadiyah” (gerak badan), “harkah qarbigah” (gerak hati) dan “harkah nafsiyah” (gerak jiwa). Gabungan dari ketiga gerak ini merupakan satu kesatuan yang tampak yang dapat menjadikan seseorang khususnya didalam shalat, dan khusyu’ itulah yang dapt menentukan seseorang mukmin dijamin menang didunia dan diakhirat.

Bab 1

PESIAPAN SHALAT

1.  MENGHADAP KA’BAH

Rasulullah bila berdiri untuk shalt fardhu atau shalat sunnah, beliau menghadap ka’bah.1) Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang shalatnya salah :

v     “Bila engkau berdiri untuk shalat, sempurnakanlah wudhumu, kemudian ,emghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.2)

v     “Ketika Rasulullah SAW berpergian, beliau biasa melakukan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya, beliau juga melakukan witir diatas kendaraannya dan menghadap ke arah hewan tersebut menghadap (ketimur atau kebarat).3)

v     “Kemana saja kamu menghadap muka, disana ada wajah allah”.4) Tersebut pula dalam hadist berikut.

v     Rasulullah terkadang melakukan shalat sunnah diatas hewan tunggangannya dengan menghadap.”5)

Tersebut pula dalam hadist berikut :

v     “Beliau biasa ruku’ dan sujud diatas hewan tunggangan dengan berisyarat (dengan menundukkan kepala) dan ketika sujud lebih menundukkan daripada ruku’.”6) Untuk shalat khauf beliau memberi contoh kepada umatnya supaya melakukan dengan berjalan kaki atau kendaraan dengan menghadap kiblat atau tanpa menghadap kiblat.7) Beliau bersabda

v     “Apabila perang telah berkecamuk, cukuplah kalian mengucapkan takbir dan bersyarat (dengan menundukkan) kepala.”8)

2. BERDIRI

Rasulullah melakukan shalat fardhu atau sunnah dengan berdiri karena memenuhi perintah Allah dalam QS. Al-Baqarah (2) 238 :

v     “Berdirilah kamu dengan tenang karena Allah.” Rasulullah pernah melakukan shalat dengan duduk ketika sakit. Akan tetapi orang – orang shalat dengan berdiri dibelakang beliau, lalu beliau memberi isyarat kepada mereka agar duduk, lalu mereka duduk. Setelah shalat, beliau bersabda :

v     “Tadi kamu sekalian hamper saja melakukan perbuatan yang dilakukan bangsa parsi dan Rum. Mereka berdiri dihadapan raja – raja merekan. Sedangkan raja – raja itu duduk, janganlah kamu melakukan hal itu, seorang iman shalat dijadikan sebagai anutan, jika dia ruku’,hendaklah kalian ruku’, jika dia bangkit dari ruku’ hendaklah kalian bangkit dari ruku’ jika dia shalat dengan duduk, hendaklah kalian shalat dengan duduk (semuanya).9)

3. SHALAT DENGAN DUDUK BAGI YANG SAKIT

Imran bin Husain berkata :

v     “Saya dahulu mengidap sakit bawasir, lalu saya menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda : (shalatlah kamu dengan berdiri. Jika tidak sanggup, hendaklah dengan duduk jika kamu tidak sanggup hendaklah dengan berbaring)”.10) ujarnya pula :

v     “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang orang yang shalatnya dengan duduk. Beliau bersabda : (orang yang shalat dengan berdiri adalah lebih baik. Orang yang shalat dengan duduk mendapat pahala separuh dari yang berdiri. Orang yang shalat dengan berbaring mendapat pahala separuh dari yang duduk).11)

4. SHALAT DI ATAS PERAHU

Rasullah pernah ditanya tentang shalat di atas perahu, sabdanya :

v     “Shalatlah diatasnya dengan berdiri, kecuali kalau kamu takut tenggelam.”12) Begitu juga saat shalat di dalam pesawat terbang dilakukan seperti shalat diatas perahu, yaitu jika dapat melakukan dengan berdiri, jika tidak dengan duduk dan ruku’ serta sujudnya cukup dengan isyarat.

v     Ketika badan Rasullullah SAW menjadi gemuk dan umur beliau sudah tua, beliau memasang tiang ditempat shalatnya sebagai sandaran ketika shalat dengan berdiri.

5. SHALAT LAIN DENGAN BERDIRI ATAU DUDUK

v     “Terkadang beliau SAW melakukan shalat dengan lail dengan berdiri cukup lama, tetapi terkadang dengan duduk yang cukup lama. Bila beliau membaca ayat – ayat Al- qur’an dengan berdiri, beliau melakukan ruku’ juga dengan berdiri. Bila beliau membaca ayat – ayat Al – qur’an dengan duduk. Beliau melakukan ruku’juga dengan duduk.”14)

v     Rasulullah melakukan shalat sunnah dengan duduk hanyalah ketika telah tua pada akhirnya hayatnya, kira – kira setahun sebelum beliau wafat.15) Beliau terkadang melakukan shalat dengan duduk bersila.16)

6.  ALAT DENGAN BERSANDAL

v     “Terkadang beliau shalat dengan kaki telanjang, tetapi terkadang dengan bersandal.”17) Beliau memebenarkan umatnya melakukan hal ini sebagaimana sabdanya.

v     “Bila seseorang diantara kamu shalat hendaklah mengenakan sepasang sandalnya atau ia melepaskan keduanya dan meletakkannya di antara kedua kakinya agar tidak mengganggu orang lain.”18)

7.  SHALAT DIATAS MIMBAR

Terkadang Rasulullah shalat dengan berdiri diatas mimbar (dalam satu riwayat disebuttkan tinggi mimbarnya 3 anak tangga),19) kemudian beliau berdiri diatas mimbar, lalu bertakbir, lalu para makmum bertakbir, sedang beliau bangkit dari ruku’, lalu mundur, turun ke mimbar, kemudian bersujud diatas tanah , beliau mengulang (hal yang dilakukan pertama) ndan terus melakukannya sampai selesai shalat, kemudian beliau menghadap makmum, lalu bersabda :

v     “(Wahai manusia saya melakukan hali itu supaya kalian dapat mengikuti aku dan kalian dapat mempelajari shalatku).”20)

8. KEWAJIBAN MEMASANG SUTRAH (PEMBATAS)

v     “Janganlah Kamu shalat tanpa memasang sutrah dann janganlah engkau membiarkan seseorang lewat dohadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia memaksa terus lewat didepanmu, lawanlah dia karena dia ditemani oleh setan.”21)

v     “Bila beliau shalat (ditempat terbuka yang tidak sesuatu pun menutupi) beliau menacapkan tombak didepannya, lalu shalat menghadap tombak tersebut, sedang para sahabat bermakmum di belakangnya.22)

v     “Jika seorang diantara kamu telah melaletakkan benda atau barang setinggi kayu bagian belakang pelana, shalatlah dengan tidak perlu menghiraukan orang yang lewat di sebelah tiang tersebut.23)

9. YANG BISA MEMBATALKAN SHALAT

Beliau pernah bersabda :

v     “Shalat seseorang menjadi putus karena dilewati perempuan (haid)24) keledai, dan anjing hitam bila dihadapannya tidak diletakkan pembatas sejenis pelana. “Kata Abu Dzar : Saya bertanya : “Wahai Rasulullah, apa bedanya antara anjing hitam dan anjing warna lain ?” Anjing hitam adalah setan.”25)

10. MENGHADAP KUBUR

Nabi Muhammad SAW melarang shalat menghadap kubur sebagaimana

sabdanya :

v     “Janganlah kamu shalat menghadap kubur dan jangan pula duduk di  atasnya.”26)

11. NIAT

Nabi Muhammad SAW bersabda :

v     “Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya.”27)

Bab 2

GERAKAN DAN BACAAN SHALAT

1. TAKBIR

Nabi Muhammad SAW selalu memulai shalatnya dengan mengucapkan Allahu Akbar dan beliau pun pernah memerintahkan seperti itu pada orang yang shalatnya salah seperti tersebut dalam pembicaraan terdahulu, beliau bersabda kepada orang itu :

v     “Sesungguhnya shalat seseorang tidak sempurna sebelum berwudu dan melakukan wudu sesuai ketentuanny, kemudian ia mengucapkan Allahu Akbar.28)

v         “Bila beliau sedang sakit, Abu Bakarlah yang membantu takbir Rasullah

SAW dengan mengucapkan takbir dengan suara keras agar dapat

didengar oleh makmum.29)

2.  MENGANGKAT KEDUA TANGAN

v         ”Beliau mengangkat kedua tangannya dengan membuka jari – jarinya lurus keatas [tidak mengangkatnya dan tidak pula                  ].30)

3.  BERSEDEKAH

v     ”Nabi SAW meletakkan tangan kanan diatas tangan kirinya (bersedekap).31)

v     ”Beliau meletakkan (telapak tangan) kanan diatas punggung telapak,

pergelangan, dan lengan bawah kirinya.32)

4.  MEMBACA AL – FATIHAH

Nabi SAW membaca surah Al – Fatihah dengan berhenti setiap ayat, tidak

menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya.

5.  BACAAN MAKMUM

  1. Bila Imam membaca dengan keras, makmum tidak membaca.
  2. Diamnya makmum untuk mendengarkan merupakan kesempurnaan bermakmum.

v     ”Barang siapa shalat mengikuti imam, maka bacaan imam telah menjadi bacaannya juga.”33)

  1. Wajib membaca Al – Fatihah dalam shalat sir ( membaca tanpa suara)

Bacaan dalam shalat sir ini tidak boleh mengganggu orang lain.

  1. Imam membaca Amin dengan keras (Nabi SAW menyuruh makmum mengikuti bacaan Amin Imam segera setelah Imam mengucapkan amin.

6.    MEMBACA QUNUT NAZILAH PADA SHALAT LIMA WAKTU

Nabi membaca qunut pada shalat – shalat wajib34) tetapi hanya Beliau lakukan

bila memohon kebaikan atau malapetaka untuk suatu kaum35)

v     ”Nabi SAW (terkadang ) membaca qunut dalam shalat witir.36)

7.   SUJUD DIATAS TANAH DAN TIKAR

Nabi biasa sujud diatas tanah.39)

v     “Para sahabat beliau berjamaah sahalat dengan beliau kerika cuaca panas. Bila ada yang tidak sanggup menekankan dahinya ketanah, dia membentangkannya kainnya, lau sujud diatas kain tersebut”40)

8.    MENGUCAPKAN SALAM

v     ”Nabi SAW mengucapkan salam dengan berpaling ke arah kanan seraya mengucapkan assalamu’alaikum wa rahmatullahi [sehingga terlihat pipi kanannya yang putih] dan berpaling ke kiri  seraya mengucapkan assalamu’alaikum wa rahmatullah [sehingga terlihat pipi kirinya yang putih].37) Terkadang pada bacaan salam yang pertama Nabi menambahkan kata ”wa barakatuh.”

9.   KEWAJIBAN SALAM

Nabi SAW bersabda :

v     ”………mengakhirishalat dengan mengucapkan salam.”38)

Bab 3

Ruh shalat, Khusyu’ Dan Faktanya

1.      RUH SHALAT

Ruh shalat itu ialah menghadap Allah dengan sepenuh jiwa dan khusyu’ dihadapannya serta ikhlas kepadanya disertai dengan kehadiran hati dalam berzikir, berdoa dan memuji.

Shalat juga terdiri dari yang dimulai dua unsur yaitu unsur jasad dan unsur ruh. Unsur jasad shalat adalah unsur yang konkrit dan nyata, yaitu kaifiyat shalat itu sendiri yang merupakan perkataan dan perbuatan yamg dimulai dengan takbir dan yang disudahi dengan salam, sedang unsur ruh adalah unsur yang abstrak yang tidak nyata, tetapi ada sangat menentukan bagi hidup atau matinya shalat yang ditegakkanoleh seorang hamba. Itu pula sebabnya maka Allah SWT berfirman dalam QS : Thaaha : 14 .

v     ”Sesungguhnya Aku-lah Allah, tiada tuhan yang lain kecuali Aku oleh sebab itu sembahlah Aku dan dirikanlah shalat semata – mata  karena ingat kepada-Ku

2.  Khuyu’

Failasuf Islam Syeikh TanthawiJauhary dalam tafsir Aljawahir menjelaskan : ”Khasyi’un ialah merendahkan diri & tunduk, tidak berpaling ke kanan & ke kiri, tidak mengangkat tangan di dalam shalat. Dan mereka memusatkan kemauan (himmah) dengan hati mereka serta mereka berpaling dari yang lain dari Allah. Dan mereka  merenungkan apa yang berlaku di atas lidah mereka merupakan bacaan dan dzikir (doa).

Mereka tidak memain – mainkan jari – jari mereka. Sebagian daripda tanda       pemusatan pikiran serta pemahaman bacaan – bacaan yang dibaca, mereka tidak mengetahui siapa yang di kanan dan yang di kiri mereka.

Sesuai dengan Hadist Nabi Muhammad SAW

v     ”Hendaklah kaum itu berhenti dari mengangkat penglihatan mereka kelangit di dalam shalat atau akan dicopoti mata mereka.” HR. Ahmad, Muslim dan An –  nasa’i.

Adapun menurut syara’ ,khudlu ’ (khusyu) itu kadang – kadang di dalam

hati dan kadang – kadang keliahatan pada anggota badan misalnya

ketenangan. Dan menurut Fakhrur Razi dalam tafsirnya, Khusyu’

kelihatan pada anggota badan dan bersuber dalam hati, sebagaimana

dalil bahwa khusyu’ itu merupakan pekerjaan hati ialah hadist. Nabi

Muhammad SAW : ALKHUSYU’U FIL QALBI (Khusyu’ itu di dalam

hati).H. R. Al – Hakim.

Juga sebuah hadist lainnya :

v     ”Rasulullah SAW melihat seorang laki – laki mempermain –

mainkan janggutnya di dalam sholatnya, maka berkatalah

Rasulullah SAW, jikalau Khusyu’lah hati laki – laki ini tentu akan

khusyu’ lah anggota badannya”

HR. Turmudzi dan Al – Hakim.

Ada dua pendapat tentang hukum khusyu’ itu :

1). Wajib Khusyu’ dai dalam shalat, sekurang – kurangnya pada waktu

mengucapkan takbir iftitah pada permulaan shalat. Apabila shalat

kosong di khusyu’ dalam keseluruhannya maka batallah shalat itu,

shalat tersebut di anggap tidak sah dan tidak ada faedahnya didirikan.

2.) Khusyu’ itutidak termasuk syarat atau rukun shalat, sebab itu

hukumnya tidak wajib. Ini pendirian jumbur ulama (ijma’ ulama). Tetapi

khusyu’ itu mesti ada setidaknya – tidaknya takbiratul ilham. Khusyu’

itu  diakui sebagai ruh shalat.

3. FAKTOR – FAKTOR KHUSYU’

Hujjatul Islam terkenal Imam Al – Ghazaly menjelaskan dalam kitab IHYA – U’ULUMIDDIN, bahwa maslah khusyu’ sebagai masalah kejiwaan (physic) dapat diuraikan dengan berbagai gaya bahasa, tetapi dapat disimpulkan dalam enam unsur (faktor), yaitu :

1). Hudlurul Qalbi (pemusatan pikiran) adalah memalingkan fikiran, dari

segala yang lain dan memusatkannya semata – mata kepada yang

sedang dihadapi, sehingga fikiran, perbuatan dan ucapan jadi sejalan.

2). Tafahhum (pengertian) adalah memahamkan apa yang dibaca di

dalam shalat ini berada dibelakang dari pemusatan pikiran.

3). Ta’zhim (Membesarkan Tuhan) maksudnya faktor ini terletak dari

pemusatan pikiran dan pengertian, karena mungkin seseorang berbicara dengan orang bawahannya dengan pikiran terpusat dengan pengertian, tetapi tiada membesarkan. Kerena itu membesarkan adalah diatas dari kedua faktor yang terdahulu, yaitu pemusatan pikiran dan pengertian.

4). Haibah (takut dan kagum akan kebesaran Tuhan) adalah lebih dari rasa membesarkan, karena rasa Haibah ini adalah rasa gentar dan sangat takut karena kagum akan kebeasaran Tuhan.

5). Raja’ (Harap dan keampuan / Rahmad Tuhan) adalah tidak diragukan lagi bahwa faktor ini melebihi yang di atas karena kita sebagai hamba Allah SWT seharusnya mendambakan harapan didalam shalat akan pahala dari Allah SWT, disamping takut & gentar akan hukumannya terhadap kelalaian kita.

6). Haya’ (Rasa malu dan hina diri) faktor ini menguasai semua faktor – faktor lainnya, karena bersumber kepada rasa hina dan rasa berdosa, karena menyia-nyiakan perintah Allah. Karena rasa malu terhadap Allah itu timbul dari kesadaran kita akan kelalaian dalam beribadah dan mengakui kelemahan kita untuk melaksanakan kewajiban yang dibebankan Tuhan kepada kita.

4. HUKUM – HUKUM SHALAT

1). Sunnah qabliyah dikerjakan sebelum shalat fardhu dan sunnah

ba’diyah dikerjakan sesudahnya.

2). Pelan – pelanlah dan arahkan pandangan ke tempat sujud dan jangan

Menoleh.

3). Diamlah apabila mendengar bacaan Imam dan bacalah surah – surah

apabila tidak mendengar bacaan Imam.

4). Shalat fardhu jum’at dua rakaat dan tidak boleh dikerjakan kecuali di

masjid setelah mendengar khutbah.

5). Shalat fardhuy Magrib tiga rakaat.

6). Shalat fardhu dhuhur dan ashar masing – masing empat rakaat.

7). Shalat witir tiga rakaat, lakukanlah dua rakaat dahulu kemudian salam,

setelah itu shalat lagi satu rakaat kemudian salam.

8). Apabila anda menjadi makmum, berdirilah dan bacalah takbir

meskipun imam sudah ruku’

9). Apabila anda ketinggalan satu rakaat atau lebih dari imam maka

ikutilah shalat imam, setelah imam salam anda tidak ikut salam tetapi

berdiri lagi untuk menambah rakaat yang tertinggal.

10). Janganlah shalat dengan tergesa – gesa karena hal itu dapat

membatalkan shalat.

11). Apabila anda terlupa salah satu kewajiban shalat, seperti lupa tidak

duduk atau tahajud awal atau ragu tentang jumlah rakaat yang telah

yang telah dikerjakan, maka ambillah jumlah yang sedikit lalu sujudkan

dua kali pada akhir shalat kemudian salam sujud ini disebut ”sujud

sahwi”

12). Jangan banyak bergerak dalam shalat, karena hal ini menghilangkan

Kekhusukan

CATATAN KAKI

1). Sudah menjadi kebenaran umum karena mutawatir riwayatnya, sehingga

tidak perlu lagi dilakukan takhrij hadist.

2). HR. Bukhari, Muslim dan siraj.

3). Idem.

4). HR. Muslim dan disahkan oleh Tirmizdi.

5). HR. Abu Daud, Ibnu Hibban dengan sanad hasan,oleh Ibnu Sakan dan

Ibnu Mulaqqan.

6). HR. Ahmad dan Tirmizdi, disahkan oleh Tirmizdi.

7). HR. Bukhari dan Muslim, baca Al – Irwa’.

8). HR. Baihaqi dengan Sanad Bukhari dan muslim.

9). HR. Bukhari dan muslim.

10). HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ahmad.

11). HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ahmad.

12). HR. Al – Bazaar, Daraquthni, Abdul Ghani Al – Magdisi, Disahkan oleh

Hakim dan disetujui oleh imam Dzahabi.

13). HR. Abu Dawud dan Haki, disahkan oleh Hakim dan Dzahabi.

14). HR. Muslim dan Abu Dawud.

15). HR. Muslim dan Ahmad.

16). HR. Nasa’i, Ibnu Khuzaima, ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi, dan Hakim. Disahkan

Hakim dan disetujui Dzahabi.

17). HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah Hadist ini mutawatir seperti dijelaskan oleh

Imam Thahawi.

18). HR. Abu Dawud dan Al – Bazaar, disahkan oleh hakim dan disetujui

Dzahabi

19). Menurut Sumnah, mimbar itu mempunyai tiga anak tangga, tidak lebih.

Tambahan lebih dari tiga anak tangga itu merupakan bi’ah yang dibuat oleh

Dinasti Ummayah.

20). HR. Bukhari dan muslim Hadist lain diriwayatkan muslim juga dan Ibnu

Sa’ad.

21). HR. Ibnu Khuzaiman dalam kitab shahihnya (1/93/1) dengan Sanad Jayyid

(baik).

22). HR. Bukhari Muslim dan Ibnu Majjah

23). HR. Abu Dawud dan Muslim

24). Yaitu perempuan yang sudah dewasa yang dimaksud dengan putus disini

ialah batal. Adpaun Hadist yang berbunyi “shalat tidak dapat dibatalkan oleh

apapun.” Adalah hadits dha’if seperti yang dijelaskan dalam kitab Tamamul

Minnah.

25). HR. Muslim, Abu Dawud dan Ibnu khuzaimah.

26). Idem.

27). HR. Bukhari, Muslim dan lain – lain.

28). HR. Thabarni dengan sanad shahih.

29). HR. Muslim dan Nasa’i.

30). HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Tamam dan Hakim, disahkan oleh hakim

dan disetujui dzahabi.

31). HR. Muslim dan Abu Dawud.

32). HR. Abu Dawud Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dengan Sanad Shahih dan

disahkan  pula oleh Ibnu Hibban.

33). HR. Ibnu Abi syaibah, Daraq Uthni, Ibnu majah, Thahawi dan Ahmad, dari

beberapa banyak jalan, baik yang bersambung maupun yang mursal.

34). HR. Abu Dawud, Siraj, Daraquthni dengan masing – masing sanadnya

Hasan.

35).  HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Khatib dengan sanad sahih.

36). HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad sahih.

37). HR. HR. Muslim. Semakna dengan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud,

Nasa’i Tirmidzi

38). Disahkan oleh Hakim dan Dzahabi.

39). Masjid Nabawi berlantai tanah tanpa digelari tikar atau yang lain. Banyak

Hadits yang akan tersebut berikut ini, yaitu Hadits Abu Said.

40). HR. Muslim dan Abu ’Awanah

KESIMPULAN

Semua cara yang telah disebutkan dalam makalah ini berlaku bagi semua laki – laki dan perempuan, tidak terdapat keterangan dari sunnah yang menerangkan adanya cara – cara khusus untuk perempuan yang berbeda yang berbeda dengan cara yang berlaku untuk laki – laki. Bahkan sabda Nabi SAW yang mengatakan : “Shalatlah kamu sekalian seperti kalian melihat aku shalat “ berlaku secara umum dan mencakup kaum perempuan.

Ibrahim An-Nakha’imenyatakan :

v           “Dalam shalat wanita melakukannya sama dengan yang dilakukan oleh

laki – laki”.

(HR. Ibnu Abi Syaibah dengan Sanad Sahahih).

Haditsyang menyebutkan bahwa dalam sujud wanita harus mengempitkam tangan ke lambung, sehingga berbeda dengan laki – laki adalah Hadits Mursal, tidak boleh dijadikan Hujjah.

Imam Bukhari dalam kitab At-Tarikh Ash-shaghir, meriwayatkan dari ummu Darda’ Hadits shahih berbunyi :

v           “Sesungguhnya (Ummu Darda’) dalam shalat, duduk seperti cara duduk

laki – laki, padahal beliau seorang perempuan ahli Fiqh”.

Inilah sifat shalat Nabi yang dapat saya ucapkan yang dapat saya usahakan pengumpulannya sejauh kemampuan saya yang meliputi takbiratul ilham sampai dengan ucapan salam. Saya memohon kepada Allah semoga usaha ini dijadikan sebagai amal yang ikhlas dan menjadi petunjuk pada sunnah nabinya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ibnu Khuzaimah, Ash-shahih, foto-copyan, kemudian dicetak di Penerbit Al-

Maktab Al-Islami.

2. Al –Bazzar : Abu Bakar Ahmad bin ’Amr Al-Bashri, Al-Musnad-Zawa’iduhu.

3. Ibnu Hibban, Ash-Shahih Al-Ihsan, Daru Al-Ma’arif, Mesir dan Daru Kutub Al-

ilmiyyah, Libanon

4. Ibnu Hibban, Ats-Tsiqat, (tulisan tangan), kemudian diterbitkan di India.

5. Al-Baihaqi : As-sunanul kubraa, Daarul Fitri, Beirut

6. Imam A-Nasa-i : sunan An-Nasai, Musthafa Al-Baabi, Al-Halabi

One response to “Kumpulan Tugas Makalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s